Rabu, 30 Oktober 2013

Tentang Trinitas Symphony Orchestra


- Trinitas Symphony Orchestra -
Penampilan pertama kali tahun 2011
Acara Natal SMA Trinitas



Trinitas Symphony Orchestra atau yang biasa disingkat TSO adalah sebuah kegiatan ekstrakurikuler di SMA Trinitas, sebuah kelompok bermusik yang keberadaannya membuka lebar kesempatan berupa pengalaman bermain alat musik, di mana siswa - siswi berkesempatan bermain di dalam kelompok orkestra.

Sampai saat artikel ini ditulis, TSO sudah berusia 2 tahun. Belum lama memang. Tetapi selama perjalanannya, siswa - siswi yang tergabung di dalam TSO ini sudah beberapa kali 'turun' ke masyarakat luas alias manggung, menunjukkan kebolehan mereka dalam bermain musik.

Berdirinya TSO tidaklah semudah membalikkan tangan. Banyak halangan dan rintangan yang kemudian menghalangi perkembangan kelompok ini.

Sejarah Trinitas Symphony Orchestra

TSO pertama kali didirikan pada hari Selasa, 16 Agustus 2011 oleh Bpk. Hendry Limandry , yang sampai saat ini masih berperan sebagai pengajar di SMA Trinitas. Bpk. Hendry Limandry mulai mengajar di SMA Trinitas tahun 2010.

Saat itu Pak Hendry ditugaskan untuk mengajar Paduan Suara, karena SMA Trinitas saat itu belum memiliki kelompok paduan suara. Tepat pada tanggal 16 Agustus 2010, paduan suara berdiri. Tahun - tahun sebelumnya, kelompok paduan suara pernah ada lalu bubar, dan terjadi berulang kali. Penyebabnya adalah kurangnya peminat atau siswa - siswi yang merasa tidak nyaman di dalam kelompok paduan suara.

Satu tahun Pak Hendry Limandry mengajar paduan suara, dan ternyata memang benar 'mitos' tersebut. Kurang peminat. Oleh karena itu timbul ide di dalam kepala Pak Hendry ini, perlu adanya sesuatu yang menarik agar kelompok paduan suara ini bisa diminati. Terpikirlah kemudian, salah satu kondisi yang bisa dimanipulasi dari paduan suara adalah lagu yang enak, selain itu, musik yang enak. Lalu ide tersebut diwujudkan dan bulatlah tekad Pak Hendry untuk mendirikan orkestra.

Saat itu Pak Hendry belum mengetahui siapa saja anak yang bisa bermain biola dan berbagai alat musik lain. Satu murid yang Pak Hendry tahu mahir bermain biola saat itu adalah seorang siswi bernama Cornelia Amy. Lalu untuk memecahkan ini, Pak Hendry mencari anak - anak yang sudah menguasai alat musik biola, dan alat musik lain seperti piano, flute, dan lain - lain. Kebetulan, saat itu di tahun 2010, Bapak Suro Mulyono, selaku Kepala SMA Trinitas berniat mendata bakat - bakat siswa - siswi melalui kuisioner. Lalu Pak Hendry membantu Pak Suro menyebar kuisioner tersebut dan mendata nama siswa - siswi yang memang memiliki kemampuan bermusik itu. Alhasil, di luar dugaan, ternyata banyak sekali siswa - siswi yang memiliki kemampuan bermain biola, mulai dari yang paling mahir, hingga yang hanya sekedar memiliki biola. Semua siswa - siswi tersebut kemudian dikumpulkan oleh Pak Hendry sepulang sekolah untuk kemudian didata nama - namanya.

Dari data tersebut, terkumpulah belasan pemain biola, yang kemudian bisa dikatakan sebagai angkatan pertama di Trinitas Symphony Orchestra. Yang lebih mengejutkan lagi bahwa SMA Trinitas memiliki siswa yang bisa memainkan saxophone alto yaitu Stefan Singgih, pemain flute yaitu Evie Christiana, pemain biola yang sudah mahir Cornelia Amy, Levina Mahardhika C, Maria Desiana Claudia, Fiona Meryl, dan masih banyak lagi, juga si 'jenius' Kenan Mahesa S yang saat itu memainkan piano, Moses sebagai basist, Michelle Guido 'si wanita macho' pemain drum (padahal penampilannya feminim . .), lalu 'si serba bisa' Mediatrix. Ada juga sahabat satu paket Deslyn dan Sharleen yang selalu bersama, pemain synth. Strings dan synth. Brass, Adit dan Moses sebagai Basist, lalu Aguina S dan Birgitta yang bersuara emas, juga siswa bernama Christopher Susanto yang luar biasa besar dedikasinya dalam paduan suara maupun TSO (terimakasih yah . . .) dan masih banyak lagi.

Tekad Pak Hendry membuat kelompok orkestra pun semakin kuat, terus dan terus menguat, hingga lahirlah sebuah aransemen lagu 'Kau yang Terindah', lagu rohani karya Robert dan Lea yang melodi dan liriknya begitu indah. Saat itu, hari Selasa tanggal 16 Agustus 2011 pertama kalinya siswa - siswi berbakat itu dikumpulkan dan berlatih bersama, di dalam perpustakaan SMA sepulang sekolah.

Pertemuan pertama . . .

"Waduuuh . . . .kayak anak ayam suara biolanya . . . pyaak . . pyaak . . sana - sini. Suara C aja bisa ada belasan macem . . ." Begitulah kata Pak Hendry saat latihan pertama. Tapi Pak Hendry mengakui, takjub dan salut, melihat semangat siswa - siswi yang tidak mudah hilang. Akhirnya Pak Hendry terdorong untuk menampilkan orkestra ini. Lalu Pak Hendry memutuskan, misa natal nanti -- misa natal tahun 2011 di SMA Trinitas -- akan diiringi oleh orkestra.

Sejak diumumkannya pengumuman tersebut, Pak Hendry terus membuat aransemen lagu lain untuk mengiringi lagu - lagu sepanjang misa berlangsung. Dan akhirnya, misa bergantung sangaaaaat meriah dengan adanya orkestra. Sebenarnya, selama Pak Hendry mengaransemen lagu - lagu misa, Pak Hendry sempat merasa lelah dan pesimis akan keberhasilan orkestra ini. Pergulatan batin terus berlangsung di dalam hati, ditambah lagi adanya masalah - masalah internal yang tidak bisa disebutkan dan diceritakan di sini. Hingga akhirnya ketika itu Pak Hendry mulai merasa tidak usah membuat orkestra. Cukup misa natal itu saja, setelahnya kelompok ini dibubarkan. Tetapi ada pengalaman lain yang akhirnya mendorong dan meyakinkan kembali Pak Hendry untuk terus melanjutkan TSO. Apa pengalaman itu? Sampai saat ini, Pak Hendry masih ingat jelas pengalaman itu, yaitu kepuasan anak - anak orkestra setelah tampil di misa natal tahun 2011. Mereka sangat puas, dan beberapa bertanya, "Kapan tampil lagi?". Beberapa berkata,"Ayo tampil lagi di misa semester depan". Ditambah lagi apresiasi dari sekolah saat itu, terutama dari guru - guru, siswa - siswi, dan bahkan karyawan. Mereka semua merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Pak Hendry, yaitu : MERINDING. Merinding bukan karena horor, tetapi permainan siswa - siswi tersebut INDAH sekali. INDAH!

Trinitas Symphony Orchestra kemudian terus berkembang. Tahun berikutnya, pesertanya bertambah, begitu juga dengan ekstrakurikuler paduan suara, dengan kondakter yang luar biasa : Abel.

Demikian perjalan singkat mengenai berdirinya Trinitas Symphony Orchestra. Semoga cerita singkat tersebut selalu dikenang, untuk terus memotivasi siswa - siswi baru yang tergabung di dalam orkestra ini. Agar kita semua yang menjadi anggotanya juga sadar bahwa orkestra tidak muncul begitu saja, tetapi berawal dari sebuah kerja keras, berakar dari kesungguhan dan perjuangan mereka yang rela berlatih sepulang sekolah tanpa diberikan nilai tambahan. Mereka yang bekerja dengan tulus dan akhirnya lahir Trinitas Symphony Orchestra.

Semoga Trinitas Symphony Orchestra ini terus dan terus berkembang, juga bakat - bakat yang tidak bisa terwujudkan menjadi terwujud melalui TSO ini. Juga minat - minat yang terhalang menjadi bisa terpenuhi, sehingga setiap tahun TSO melahirkan pemusik - pemusik baru yang menghargai kerja keras, disiplin, daya juang, dan doa.

Hidup TSO! Hidup SMA Trinitas!!



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Sumber :
-  Historia Domus TSO_1_Sjr_2011
-  Hendry Limandry

Link berkaitan dengan TSO dan Hendry Limandry :
Trinitas Symphony Orchestra_Facebook 
http://whiteharmonyorchestra.blogspot.com/2013/04/message-from-hendry-limandry-music.html
white harmony chamber orchestra
http://whiteharmonyorchestra.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar